Agama

Pacaran, boleh g?

A. Pengertian Pacaran

Saya mencoba merumuskan defenisi tersendiri terhadap pacaran. Satu hal yang mungkin agak terlupa dari defenisi pacaran pada umumnya adalah “ikatan yang syah menurut hukum pernikahan”, baik dalam perspektif hukum negara maupun hukum agama. Sebab, ikatan tersebut boleh jadi syah dimata pasangan itu sendiri, keluarga mereka, ataupun masyarakat di sekitar mereka. Dengan kata lain, pacaran sudah menjadi kemakluman yang sangat umum di tengah masyarakat kita. Hanya saja, ada hal-hal yang mungkin tidak dapat ditolerir seperti: berhubungan intim layaknya sepasang suami istri.

Saya juga memandang pacaran lebih dekat dengan persoalan “cinta”, sebab cinta itulah yang nantinya akan melahirkan benih kasih sayang. Karenanya, defenisi yang tepat bagi saya untuk istilah pacaran adalah: “interaksi anak manusia untuk mewujudkan atau meluapkan perasaan cinta kepada orang yang dicintainya tanpa ikatan pernikahan”. Ada satu hal yang perlu digaris bawahi disini, bahwa saya tidak ingin menggunakan kata-kata “sepasang anak manusia” yang memiliki orientasi “berlawanan jenis”. Sebab dalam kenyataannya, meskipun dengan alasan yang agak sulit dimengerti, ada juga anak manusia yang merasakan cinta terhadap sesama jenisnya. Orang-orang semacam ini tentu tidak dapat dinafikan begitu saja dari “wilayah pacaran”, apapun alasannya.

Masalah lain yang mungkin akan muncul dari defenisi yang saya batasi adalah “ikatan pernikahan”. Kita tentu pernah mendengar ungkapan “pacaran setelah nikah” yang berbarti bahwa sebaik-baiknya pacaran adalah pacaran yang dilakukan setelah menikah. Namun, saya masih meragukan argumentasi ini, sebab tidak ada istilah pacaran setelah menikah – menurut hemat saya. Jarang sekali seorang laki-laki misalnya, menikahi pacarnya (wanita tentunya) dengan tetap memakai status “pacar” pada wanita tersebut. Tentu setelah dinikahi status pacarnya akan berubah menjadi “istri”. Justru yang pernah saya dengar dari guyonan seorang teman, “ayahku datang dengan mantan (bekas) pacarnya” untuk mengatakan bahwa ayahnya datang bersama ibu yang melahirkannya. Dengan demikian, pacaran dan pernikahan merupakan dua status yang terpisah. Dua status ini tidak akan pernah bertemu dalam satu waktu. Tidak akan ada orang yang mendapatkan dua status ini sekaligus pada umumnya. Saya akan menyebut diri saya masih pacaran apabila belum menikah, dan akan mengatakan telah menikah setelah menikahi pacar saya, kecuali jika saya selingkuh.

Dan melalui defenisi serta pengandaian yang saya rumuskan, kita dapat menemukan satu kata kunci dari istilah pacaran, yaitu “cinta”. Jika pacaran kurang begitu menarik diangkat dalam wilayah studi ilmiah, cinta justru sebaliknya, mulai dari psikolog hingga filosof mencoba melacak dan berkomentar mengenai “cinta”.

Rumusan Stanberg ini agaknya membantu kita untuk sekali lagi menyelami “wilayah pacaran” yang sedari awal telah kita bicarakan dalam tulisan ini. Menurut saya, apa yang telah dirumuskan Stanberg tentang “segi tiga cinta” menjadi komponen-komponen yang harus ada dalam “kamus pacaran”. Kita belum pernah mendengar ada orang yang berpacaran tanpa “keintiman”, sungguhpun kita pernah mengetahui ada juga orang yang berpacaran melalui sms atau komunikasi telepon tanpa pernah bertemu muka sekalipun, namun tidak berarti nilai keintiman tidak ada didalamnya, sebab istilah intim memang lebih bersifat abstak. Orang berpacaran juga karena muncul dalam dirinya sebuah gairah, gairah ini pula yang nantinya melahirkan rasa ingin memiliki terhadap orang yang dicintai. Dan terakhir, tidak ada dalam kamus pacaran tanpa sebuah kesepakatan (komitmen), artinya mereka yang bersepakat untuk pacaran biasanya akan membangun sebuah komitmen tertentu yang akan disetujui satu sama lain. Pelanggaran terhadap komitmen ini yang biasanya memunculkan “teori terbalik” segi tiga cinta ala Stanberg (alias cinta segi tiga).

B. Pacaran Dalam Pandangan Islam

Setelah kita membicarakan cinta dan pacaran, selanjutnya mari kita melihat bagaimana Islam memandang pacaran? Namun, ketika kita membicarakan Islam berarti kita membicarakan sesuatu yang banyak (beragam) – ungkap Luthfie Asyaukanie. Kalangan Faqih mungkin akan berbeda dengan orang-orang sufi dalam memandang pacaran, konon lagi filosof – jika kita bawa-bawa dalam pembicaraan ini. Akan tetapi, jika pertanyaan yang muncul adalah “bagaimana pandangan Islam terhadap pacaran?”, dapat disimpulkan ini menjadi wilayah pembicaraan kalangan faqih yang biasa bicara soal hukum.

Saya tidak akan menentukan mazhab mana yang harus dipakai untuk mengukur “hukum pacaran”, karena bicara Islam berarti bicara sesuatu yang beragam (banyak). Maka, menurut saya perlu mengemukakan seluruh pandangan yang muncul tentang pacaran, yang secara umum dapat dikategorikan kedalam dua pandangan, yaitu :

1. Pacaran Itu Haram

Tidak ada pacaran di dalam Islam, sama halnya dengan pacaran itu “haram”.

Pandangan semacam ini biasanya menganggap bahwa untuk berhubungan dengan orang-orang yang bukan mahram, harus melalui ikatan-ikatan yang syah menurut pandangan Islam (yang dipahaminya, tentunya), dan ikatan tersebut adalah pernikahan. Golongan yang memiliki pandangan seperti ini biasanya hanya mengenal istilah ta’aruf yang terjadi sebelum pernikahan. Sangat wajar ada golongan yang punya pandangan seperti ini, karena mereka menilai masalah yang selalu dianggap sepele seperti bertatap muka dengan orang-orang yang bukan mahram merupakan “zina”, haram bersentuhan tangan (karena sama halnya dengan menyentuh bara api neraka), dan mereka melakukan komunikasi melalui hijab terhadap orang-orang yang bukan mahram.

2. Pacaran Itu dapat juga ”Mubah”

Pandangan yang membolehkan pacaran “mubah” selama masih berada dalam nilai-nilai Islam. Biasanya pandangan seperti ini masih terikat dengan argumentasi-argumentasi fiqih yang telah mengalami penafsiran-penafsiran tertentu. Pandangan ini akan diwakili oleh golongan “Islam Modernis”. Sebagai ilustrasi, orang berPacaran tanpa batal wudhu’ – misalnya. Sungguhpun “kepuasan seksual” menjadi alasan lain mengapa orang berpacaran, pada pandangan yang kedua ini agaknya pacaran ingin dijadikan sebagai wadah penyalur hasrat cinta kepada lawan jenisnya. Meskipun tidak mendapatkan “kepuasan seksual”, terpenuhinya hasrat biasanya telah dirasa cukup.

C. Hukum Hubungan Antara Pria Dan Wanita

Dalam Islam, hubungan antara pria dan wanita dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Hubungan Mahram

Hubungan yang dikatakan mahram adalah seperti yang disebutkan dalam Surah An-Nisa 23, yaitu: mahram seorang laki-laki (atau wanita yang tidak boleh dikawin oleh laki-laki) adalah ibu (termasuk nenek), saudara perempuan (baik sekandung ataupun sebapak), bibi (dari bapak ataupun ibu), keponakan (dari saudara sekandung atau sebapak), anak perempuan (baik itu asli ataupun tiri dan termasuk di dalamnya cucu), ibu susu, saudara sesusuan, ibu mertua, dan menantu perempuan. Maka, yang tidak termasuk mahram adalah sepupu, istri paman, dan semua wanita yang tidak disebutkan dalam ayat di atas.

Aturan untuk mahram sudah jelas, yaitu seorang laki-laki boleh berkhalwat (berdua-duaan) dengan mahramnya, semisal bapak dengan putrinya, kakak laki-laki dengan adiknya yang perempuan, dan seterusnya. Demikian pula, dibolehkan bagi mahramnya untuk tidak berhijab di mana seorang laki-laki boleh melihat langsung perempuan yang terhitung mahramnya tanpa hijab ataupun tanpa jilbab (tetapi bukan auratnya), semisal bapak melihat rambut putrinya, atau seorang kakak laki-laki melihat wajah adiknya yang perempuan. Aturan yang lain yaitu perempuan boleh berpergian jauh/safar lebih dari tiga hari jika ditemani oleh laki-laki yang terhitung mahramnya, misalnya kakak laki-laki mengantar adiknya yang perempuan tour keliling dunia. Aturan yang lain bahwa seorang laki-laki boleh menjadi wali bagi perempuan yang terhitung mahramnya, semisal seorang laki-laki yang menjadi wali bagi bibinya dalam pernikahan.

2. Hubungan Non Mahram

Hubungan non mahram, yaitu larangan berkhalwat (berdua-duaan), larangan melihat langsung, dan kewajiban berhijab di samping berjilbab, tidak bisa berpergian lebih dari tiga hari dan tidak bisa menjadi walinya. Ada pula aturan yang lain, yaitu jika ingin berbicara dengan nonmahram, maka seorang perempuan harus didampingi oleh mahram aslinya. Misalnya, seorang siswi SMU yang ingin berbicara dengan temannya yang laki-laki harus ditemani oleh bapaknya atau kakaknya. Dengan demikian, hubungan nonmahram yang melanggar aturan di atas adalah haram dalam Islam.

D. Hadist Dan Firman Allah Tentang Zina

1. Firman Allah SWT yang artinya :

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra: 32).

“Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki: ‘Hendaklah mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga kemaluannya….’ Dan katakanlah kepada orang-orang mukmin perempuan: ‘Hendaknya mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga kemaluannya…’.”(An-Nur: 30–31).

2. Dari HR. Bukhari

“Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.”

“Semalam aku melihat dua orang yang datang kepadaku. Lantas mereka berdua mengajakku keluar. Maka, aku berangkat bersama keduanya. Kemudian keduanya membawaku melihat lubang (dapur) yang sempit atapnya dan luas bagian bawahnya, menyala api, dan bila meluap apinya naik orang-orang yang di dalamnya sehingga hampir keluar. Jika api itu padam, mereka kembali ke dasar. Lantas aku berkata, ‘Apa ini?’ Kedua orang itu berkata, ‘Mereka adalah orang-orang yang telah melakukan zina.”

3. Rasulullah saw. berpesan kepada Ali r.a. yang artinya :

“Hai Ali, Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya! Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun berikutnya tidak boleh.” (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi).

4. Ath-Thabarani dan Al-Hakim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda:

“Allah berfirman yang artinya, ‘Penglihatan (melihat wanita) itu sebagai panah iblis yang sangat beracun, maka siapa mengelakkan (meninggalkannya) karena takut pada-Ku, maka Aku menggantikannya dengan iman yang dapat dirasakan manisnya dalam hatinya.”

“Awaslah kamu dari bersendirian dengan wanita, demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, tiada seorang lelaki yang bersendirian (bersembunyian) dengan wanita malainkan dimasuki oleh setan antara keduanya. Dan, seorang yang berdesakkan dengan babi yang berlumuran lumpur yang basi lebih baik daripada bersentuhan bahu dengan bahu wanita yang tidak halal baginya.”

Yang terendah adalah zina hati dengan bernikmat-nikmat karena getaran jiwa yang dekat dengannya, zina mata dengan merasakan sedap memandangnya dan lebih jauh terjerumus ke zina badan dengan, saling bersentuhan, berpegangan, berpelukan, berciuman, dan seterusnya hingga terjadilah persetubuhan.

5. Di dalam kitab Dzamm ul Hawa, Ibnul Jauzi menyebutkan dari Abu al-Hasan al-Wa’ifdz bahwa dia berkata:

“Ketika Abu Nashr Habib al-Najjar al-Wa’idz wafat di kota Basrah, dia dimimpikan berwajah bundar seperti bulan di malam purnama. Akan tetapi, ada satu noktah hitam yang ada wajahnya. Maka orang yang melihat noda hitam itu pun bertanya kepadanya, ‘Wahai Habib, mengapa aku melihat ada noktah hitam berada di wajah Anda?’ Dia menjawab, ‘Pernah pada suatu ketika aku melewati kabilah Bani Abbas. Di sana aku melihat seorang anak amrad dan aku memperhatikannya. Ketika aku telah menghadap Tuhanku, Dia berfirman, ‘Wahai Habib?’ Aku menjawab, ‘Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah.’ Allah berfirman, ‘Lewatlah Kamu di atas neraka.’ Maka, aku melewatinya dan aku ditiup sekali sehingga aku berkata, ‘Aduh (karena sakitnya).’ Maka. Dia memanggilku, ‘Satu kali tiupan adalah untuk sekali pandangan. Seandainya kamu berkali-kali memandang, pasti Aku akan menambah tiupan (api neraka).”

Hal tersebut sebagai gambaran bahwa hanya melihat amrad (anak muda belia yang kelihatan tampan) saja akan mengalami kesulitan yang sangat dalam di akhirat kelak.

6. Di dalam kitab Dzamm ul-Hawa, Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa Abu Hurairah r.a. dan Ibn Abbas r.a., keduanya berkata:

Rasulullah saw. Berkhotbah, “Barang siapa yang memiliki kesempatan untuk menggauli seorang wanita atau budak wanita lantas dia melakukannya, maka Allah akan mengharamkan surga untuknya dan akan memasukkan dia ke dalam neraka. Barang siapa yang memandang seorang wanita (yang tidak halal) baginya, maka Allah akan memenuhi kedua matanya dengan api dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam neraka. Barang siapa yang berjabat tangan dengan seorang wanita (yang) haram (baginya) maka di hari kiamat dia akan datang dalam keadaan dibelenggu tangannya di atas leher, kemudian diperintahkan untuk masuk ke dalam neraka. Dan, barang siapa yang bersenda gurau dengan seorang wanita, maka dia akan ditahan selama seribu tahun untuk setiap kata yang diucapkan di dunia. Sedangkan setiap wanita yang menuruti (kemauan) lelaki (yang) haram (untuknya), sehingga lelaki itu terus membarengi dirinya, mencium, bergaul, menggoda, dan bersetubuh dengannya, maka wanitu itu juga mendapatkan dosa seperti yang diterima oleh lelaki tersebut.”

7. ‘Atha’ al-Khurasaniy berkata:

“Sesungguhnya neraka Jahanam memiliki tujuh buah pintu. Yang paling menakutkan, paling panas, dan paling bisuk baunya adalah pintu yang diperuntukkan bagi para pezina yang melakukan perbuatan tersebut setelah mengetahui hukumnya.”

8. Dari Ghazwan ibn Jarir, dari ayahnya bahwa :

Mereka berbicara kepada Ali ibn Abi Thalib mengenai beberapa perbuatan keji. Lantas Ali r.a. berkata kepada mereka, “Apakah kalian tahu perbuatan zina yang paling keji di sisi Allah Jalla Sya’nuhu?” Mereka berkata, “Wahai Amir al-Mukminin, semua bentuk zina adalah perbuatan keji di sisi Allah.” Ali r.a. berkata, “Akan tetapi, aku akan memberitahukan kepada kalian sebuah bentuk perbuatan zina yang paling keji di sisi Allah Tabaaraka wa Taala, yaitu seorang hamba berzina dengan istri tetangganya yang muslim. Dengan demikian, dia telah menjadi pezina dan merusak istri seorang lelaki muslim.”

Kemudian, Ali r.a. berkata lagi, “Sesungguhnya akan dikirim kepada manusia sebuah aroma bisuk pada hari kiamat, sehingga semua orang yang baik maupun orang yang buruk merasa tersiksa dengan bau tersebut. Bahkan, aroma itu melekat di setiap manusia, sehingga ada seseorang yang menyeru untuk memperdengarkan suaranya kepada semua manusia, “Apakah kalian tahu, bau apakah yang telah menyiksa penciuman kalian?” Mereka menjawab, “Demi Allah, kami tidak mengetahuinya. Hanya saja yang paling mengherankan, bau tersebut sampai kepada masing-masing orang dari kita.” Lantas suara itu kembali terdengar, “Sesungguhnya itu adalah aroma alat kelamin para pezina yang menghadap Allah dengan membawa dosa zina dan belum sempat bertobat dari dosa tersebut.”

E. Solusi Hubungan Non Mahram

Bukankah banyak kejadian orang-orang yang berpacaran dan bercinta-cinta dengan orang yang telah berkeluarga? Jadi, pacaran tidak hanya mereka yang masih bujangan dan gadis, tetapi dari usia akil balig hingga kakek nenek bisa berbuat seperti yang diancam oleh hukuman Allah tersebut di atas. Hanya saja, yang umum kelihatan melakukan pacaran adalah para remaja.

Namun, bukan berarti tidak ada solusi dalam Islam untuk berhubungan dengan nonmahram. Dalam Islam hubungan nonmahram ini diakomodasi dalam lembaga perkawinan melalui sistem khitbah/lamaran dan pernikahan.

“Hai golongan pemuda, siapa di antara kamu yang mampu untuk menikah, maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih memelihara kemaluan. Tetapi, siapa yang tidak mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat mengurangi syahwat.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan Darami).

Selain hubungan mahram dan non mahram, baik itu dinamakan hubungan teman, pergaulan laki perempuan tanpa perasaan, ataupun hubungan profesional, ataupun pacaran, ataupun pergaulan guru dan murid, bahkan pergaulan antar-tetangga yang melanggar aturan di atas adalah haram, meskipun Islam tidak mengingkari adanya rasa suka atau bahkan cinta. Anda bahkan diperbolehkan suka kepada laki-laki yang bukan mahram, tetapi Anda diharamkan mengadakan hubungan terbuka dengan nonmahram tanpa mematuhi aturan di atas. Maka, hubungan atau jenis pergaulan yang Anda sebutkan dalam pertanyaan Anda adalah haram. Kalau masih ingin juga, Anda harus ditemani kakak laki-laki ataupun mahram laki-laki Anda dan Anda harus berhijab dan berjilbab agar memenuhi aturan yang telah ditetapkan Islam.

F. Agar lebih mengenal Calon Pasangan

Cara mengetahui sifat calon pasangan adalah bisa tanya secara langsung dengan memakai pendamping (penengah) yang mahram. Atau, bisa melalui perantara, baik itu dari keluarga atau saudara kita sendiri ataupun dari orang lain yang dapat dipercaya. Hal ini berlaku bagi kedua belah pihak. Kemudian, bagi seorang laki-laki yang menyukai wanita yang hendak dinikahinya, sebelum dilangsungkan pernikahan, maka baginya diizinkan untuk melihat calon pasangannya untuk memantapkan hatinya dan agar tidak kecewa di kemudian hari.

“Apabila seseorang hendak meminang seorang wanita kemudian ia dapat melihat sebagian yang dikiranya dapat menarik untuk menikahinya, maka kerjakanlah.” (HR Abu Daud).

Hidup di dunia yang singkat ini kita siapkan untuk memperoleh kemenangan di hari akhirat kelak. Oleh karena itu, marilah kita mulai hidup ini dengan bersungguh-sungguh dan jangan bermain-main. Kita berusaha dan berdoa mengharap pertolongan Allah agar diberi kekuatan untuk menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Semoga Allah menolong kita, amin.


PENUTUP

A. Kesimpulan

Defenisi untuk istilah pacaran adalah: “interaksi anak manusia untuk mewujudkan atau meluapkan perasaan cinta kepada orang yang dicintainya tanpa ikatan pernikahan”.

Sedangkan pacaran, secara umum dapat dikategorikan kedalam dua pandangan, yaitu : pacaran itu haram, tidak ada pacaran di dalam Islam, pandangan semacam ini menganggap bahwa untuk berhubungan dengan orang-orang yang bukan mahram, harus melalui ikatan-ikatan yang syah menurut pandangan Islam yaitu pernikahan. Pandangan selanjutnya yaitu pacaran itu mubah, pandangan yang membolehkan pacaran selama masih berada dalam nilai-nilai Islam. Biasanya pandangan seperti ini masih terikat dengan argumentasi-argumentasi fiqih yang telah mengalami penafsiran-penafsiran tertentu.

Sedangkan cara untuk mengetahui sifat calon pasangan tanpa pacaran adalah dapat bertanya secara langsung dengan memakai pendamping (penengah) yang mahram. Atau, bisa melalui perantara, baik itu dari keluarga atau saudara kita sendiri ataupun dari orang lain yang dapat dipercaya.

Iklan

1 Komentar

  1. ifa said,

    Januari 10, 2010 pada 5:14 am

    wa, tulisan mbk bgus bisa memperbaiki moral remaja sekrang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: